Sabtu, 03 Juli 2010

Mentri Olahraga Prancis Meradang


Setumpuk polemik tampaknya menghantui perjalanan Timnas Prancis pada babak penyisihan Grup A Piala Dunia 2010 di Afrika  Selatan (Afsel). Buktinya, Prancis tampil seperti tim yang baru terbentuk dan tidak diperkuat pemain berpengalaman.

Melihat kenyataan ini, Menteri Olahraga Prancis Roselyne Bachelot mengamuk di hadapan pemain, pelatih dan ofisial tim. Bachelot menyatakan hasil buruk yang dialami timnya sebagai bencana moral. Aksi ini dilakukan Bachelot menjelang pertandingan berlangsung.

"Mereka bertepuk tangan untuk saya dan langsung menangis," kata Bachelot seperti dilansir reuters, Rabu (23/6/2010).
http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20091120_073913_henry2.jpg
"Saya sampaikan kepada pemain bahwa mereka mungkin tidak lagi menjadi pahlawan bagi anak-anak kami. Ini adalah mimpi mitra Anda, teman Anda, pendukung Anda dan Anda telah rusak. Ini adalah gambar dari Prancis yang telah ternoda," bebernya.

"Saya berkata kepada pemain sepakbola Prancis yang sedang menghadapi bencana, bukan karena kalah dalam pertandingan itu, tapi karena bencana ini adalah bencana moral," tandasnya.

Ayam Jantan memang tampil memalukan pada babak penyisihan Grup A Piala Dunia ini. Dalam tiga pertandingan, Prancis hanya mampu sekali bermain imbang namun dua kali menelan kekalahan.(Fadly)
Read More � Mentri Olahraga Prancis Meradang

Jumat, 02 Juli 2010

Blatter serukan penghentian rasisme di sepak bola

http://blackchristiannews.com/news/Sepp-Blatter-001.jpg
Johannesburg--Presiden FIFA Sepp Blatter pada kongres tahunan ke-60 badan sepak bola dunia itu, Kamis,  menyerukan penghentian rasisme dan diskriminasi di sepak bola menjelang putaran final Piala Dunia yang untuk pertama kali diselenggarakan di Afrika.
Blatter,74, yang akan mencalonkan diri untuk jabatan presiden FIFA keempat kalinya tahun depan, tidak menyampaikan pidato berapi-api dan bergaya pemilihan pada para utusan  dari 207 dari 208 negara anggota FIFA.
Sebaliknya ia berkonsentrasi pada tujuan FIFA untuk melenyapkan kejahatan masyarakat yang merusak pertandingan, khususnya rasisme dan diskriminasi.
“Sepak bola adalah cermin masyarakat kita dan disentuh oleh kejahatan. Tindak kekerasan, kecurangan, doping, taruhan, diskriminasi, dan rasisme, semua ini ada pada cabang olahraga kita.
“Kita harus memulai melenyapkan mereka, salah satu yang praktis sudah lenyap — ini doping. Tetapi di sini di Piala Dunia di Afrika Selatan, dan khususnya melalui kongres ini, kita menyatakan kita menentang diskriminasi. Jangan pernah lagi kita mempunyai masalah di lapangan sepak bola atau di stadion mengenai diskriminasi atau rasisme. Bila kita tidak mampu melakukannya melalui Kongres FIFA ke-60 ini, maka kita tidak akan pernah berhasil melenyapkannya. Kita harus mengakhiri diskriminasi dan rasisme,” tegas dia.
Ketajaman kata-kata Blatter itu disampaikan di suatu negara yang dilarang FIFA dan olahraga dunia karena selama tiga dasawarsa menjalankan politik apartheid rasist.
Satu hari sebelum Piala Dunia dimulai, Blatter mengatakan penyelenggaraan putaran final di Afrika Selatan merampungkan visi mantan presiden FIFA Joao Havelange, yang ingin membuat sepak bola sebagai cabang olahraga global saat ia menjadi presiden di tahun 1974.
Sejumlah turnamen junior FIFA telah diselenggarakan di Afrika, dan Blatter mengatakan ini merupakan bagian dari program pengembangan FIFA.
“Hingga 2002 Piala Dunia hanya diselenggarakan di Eropa dan Amerika, utara dan selatan, kemudian satu hari kami harus membuka turnamen itu dan pergi ke Asia, tetapi masih ada satu benua yang belum tersentuh oleh evbent nomor satu FIFA dan ini adalah Afrika.
“Tidak mudah, banyak yang  telah dikatakan tentangnya. Tetapi, kini Piala Dunia di sini. Ini sentuhan dunia.”
Irving Khosa, ketua Panitia Penyelenggara Afrika Selatan, mendukung kata-kata Blatter ketika ia mengatakan Piala Dunia ini akan membantu mengubur citra strereotipikal Afrika dan keberhasilan Piala Dunia tersebut akan membuktikan bahwa kata-kata sinis itu salah.
“FIFA belum mengambil apapun, FIA telah memberi, memberi, memberi,” tambahnya.
Blatter mengatakan keuangan FIFA terpengaruh oleh krisis perekonomian dunia di tahun 2008, tetapi, dengan penggantian lebih dari satu miliar dolar setahun,  keuangan itu “nyaman”, tidak seperti  pada hari ia bergabung di tahun 1971, ketika tidak ada cukup uang di bank untuk menggaji  11 karyawan pada waktu itu.(Fadly)

Read More � Blatter serukan penghentian rasisme di sepak bola

Presiden Nigeria Bekukan Tim Nasional

http://www.metrogaya.com/files/imagecache/gambar_content/gambar/olahraga/nigeria.jpgPresiden Nigeria, Goodluck Jonathan, melarang tim nasional negerinya untuk terlibat di sepakbola internasional selama dua tahun menyusul prestasi buruk di Piala Dunia 2010.
Pengumuman pembekuan itu disampaikan juru bicara Jonathan, Ima Niboro, sembari menambahkan adanya dugaan korupsi dalam persiapan mengikuti turnamen di Afrika Selatan tersebut.

Niboro mengatakan seluruh dana yang dialokasikan kepada federasi sepakbola Nigeria akan diselidiki. Namun demikian, Niboro tidak menjelaskan lebih detil tentang penyelidikan itu.

Di sisi lain, juru bicara federasi Ademola Olajire mengaku belum menerima informasi mengenai skorsing dari presiden.

"Kami tak pernah diberi tahu, bahkan surat dari presiden juga tak ada," kata Olajire.

Nigeria tersisih dini dari Piala Dunia setelah hanya meraih satu poin di babak grup berkat hasil imbang 2-2 dengan Korea Selatan. "Elang Super" menuai kelalahan 0-1 dari Argentina dan 1-2 dari Yunani di Grup B.

Federasi sepakbola Nigeria sudah menyampaikan permintaan maaf kepada presiden dan masyarakat negeri itu atas prestasi buruknya. Namun hal itu tidak menghentikan langkah pengkritik untuk memberi julukan "Ayam Super" kepada timnas.

Adapun dugaan korupsi muncul setelah media massa lokal mempertanyakan skuad yang dibawa pelatih Lars Lagerback dan membuat kecurigaan adanya penyuapan di balik pemanggilan pemain.

Media lokal juga menyebut federasi harus membayar 125 ribu dolar AS untuk membatalkan pemesanan Hotel Hampshire di utara kota Durban, Afsel, karena ofisial tim menilai hotel berbintang tiga itu gaduh, sarang nyamuk dan tak aman.

Namun di balik kekisruhan ini, Nigeria terancam terkena sanksi skorsing dan pengucilan dari FIFA karena pemerintahnya ikut campur dalam urusan sepakbola negerinya.

"Sampai masalah ini diberitakan, kami belum menerima informasi resmi. Namun secara umum, posisi FIFA mengenai intervensi politik terhadap sepakbola sudah jelas," ujar FIFA dalam pernyataan resminya.(Fadly)
Read More � Presiden Nigeria Bekukan Tim Nasional